Rabu, 25 Januari 2017

Menyikapi Perbedaan

Perbedaan itu saling melengkapi karena sesuai porsi (tersusun). Sebagai contoh sebuah rumah. Di dalam rumah selalu dilengkapi dengan ruangan yang berbeda dan di setiap ruangan selalu ada perabotan yang berbeda juga. Masing-masing perabotan kita letakkan pada ruangan yang sesuai porsi (sesuai susunan), seperti panci kita letakkan di dapur, gayung diletakkan di toilet, guling dan bantal diletakkan di kamar, sofa diletakkan di ruang tamu, dan mobil diletakkan di bagasi. Terlihat indah bukan rumah tersebut? Karena perabotannya diletakkan di tempat yang sesuai porsinya (sesusai susunannya). Bayangkan! Betapa lucunya jika di dalam rumah, gayung diletakkan di kamar dan mobil diletakkan di dapur.

Tapi tanpa kita sadari yang sebenernya sudah kita tau, dalam perbedaan ada batasan. Disetiap ruang selalu ada pembatasnya, seperti ada batas yang memisahkan dapur dengan toilet, batas yang memisahkan kamar dengan ruang tamu, dan batas yang memisahkan ruang tamu dengan bagasi. Dapur, toilet, kamar, ruang tamu, dan bagasi hanya ruangan berbeda yang saling melengkapi karena ada batas yang memisahkan ruang tersebut satu sama lain. Andaikan kamar tak ada batas dengan dengan ruang tamu; betapa absurdnya kita sewaktu ganti pakaian tapi ada tamu yang melihat. Bahkan jika tak ada batas yang memisahkan ruang tamu dengan bagasi. Sudah dipastikan tamu yang hadir merasa terganggu dengan mobil yang parkir di dekat sofa. rumah yang tak memiliki batas yang memisahkan setiap ruangannya hanya rumah berantakan yang tak tersusun rapih (tak sesuai porsi).

Menyikapi perbedaan memang rumit tapi ada hikmah yang bisa dipelajari dibalik perbedaan. Saling melengkapi menjadi kunci.

Norma-normalah yang menjadi pembatasnya. Melampaui batas perbedaan hanya membuat keganjilan. Apalagi menghancurkan batasnya, membuat berantakan hal yang telah tersusun rapih.

Indahnya ketika kita bisa berjalan berirama walau dalam perbedaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar